Pelatihan Free Prior Inform Concern (FPIC)

Perubahan iklim sebagai dampak dari pemanasan global telah menyadarkan dan menggerakan berbagai negara maju, NGO internasional dan lokal untuk terlibat secara langsung maupun tidak langsung menghadapi dan mengatasi perubahan iklim itu. Salah satu kelompok yang paling rentan yang akan terkena dampak dari perubahan iklim adalah masyarakat adat yang tinggal di kawasan hutan dan pesisir; hidup bergantung pada hasil hutan, laut, kali dan sungai. Dalam pemenuhan kebutuhan hidup khususnya pangan, mereka tergantung pada kelender musim mencari makan. Ketika perubahan iklim itu terjadi, mereka juga mengalami perubahan pada kalender musim mencari makan. Perubahan kalender musim berdampak pada kelangkaan persediaan sumber pangan bagi masyarakat adat.

Masyarakat Adat Asmat, adalah bagian dari masyarakat dunia, yang tidak bisa menghindar dari dampak perubahan iklim itu. Melalui Program Voices For Just Climate Action (VCA) yang didanai oleh kementrian luar negeri Belanda, masyarakat adat Asmat dibantu untuk menghadapi perubahan iklim yang berdampak pada ketahanan pangan lokal melalui aksi adaptasi dan mitigasi. Tujuannya agar masyarakat Adat Asmat menjadi mitra strategis pemerintah (inisiator, inovator, advokator) dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berkeadilan. Tujuan di atas mengisyaratkan bahwa masyarakat adat adalah subjek atau aktor utama dari progrm VCA. Sebagai subjek, mereka memiliki kebebasan dan keterbukaan untuk menyetujui – menerima atau menolak program VCA. Kepastian menerima atau menolak menjadi hak mutlak masyarakat Adat, untuk itu di awal kegiatan, perlua dibuat FPIC agar masyarakat adat mengerti secara baik, benar, utuh dan menyeluruh tujuan, hasil, manfaat dan dampak dari program termaksud kekurangan, kelemahan, dampak negatif untuk masyarakat dan lingkungan.

Sebagai implementator Program VCA di Asmat, team kerja Yayasan Alfons Suwada Asmat (YASA), akan melakukan kegiatan FPIC dengan masyarakat Adat Asmat khususnya di kampung-kampung dan lembaga pendidikan dimana program akan dijalankan. Agar team memiliki pemahaman yang baik dan benar, kemampuan dalam memfasilitasi Free Prior Inform Concern (FPIC), perlu dibuat pelatihan bersama. Pelatihan FPIC untuk team kerja YASA diberikan oleh team dari WWF Papua, bertempat di Aula Pastoral Keuskupan Agat, dari tanggal 28 Agustus – 1 September 2021. Hadir dalam pelatihan ini semua staff YASA dan team kerja : bidang Ketahana Pangan, bidang Pendidikan Lingkungan, bidang Penguatan Gender, bidang HAKI Asmat dan bidang Pemetaan dan Pengakuan Wilayah Adat. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan ini sebanyak 16 orang. Peserta pelatihan menyadari mendapat banyak masukan, khususnya konsep, proses dan tahapan serta hasil dari FPIC. Setiap peserta dan team memiliki kerangka di awal sebelum suatu program di jalankan di basis. Basis adalah subjek, memiliki hak dan kebebasan; harus dihargai, diberi ruangn dan waktu untuk mendengarkan, memikirkan, berrefleksi, memilih dan memutuskan yang terbaik untuk komunitasnya.

Selain pelatihan FPIC, dalam hari-hari yang sama team YASA dibantu untuk memfinalisasi dokument Annual Work Plan (AWP) khususnya pada bagian Activity Output dan Indikator. Team WWF Papua berkesempatan menyampaikan kebijakan keuangan dalam program VCA dan sistem pelaporan baik kegiatan mau pun keuangan. Semua yang disampaikan dalam hari-hari kegiatan sangat membantu team YASA dalam menjalankan, mendokumentasikan dan melaporakan apa yang telah dikerjakan.

Bupati Asmat (Elisa Kambu, S. Sos) berkesempatan hadir dalam kegiatan pelatihan FPIC ini. Dalam sambutan bupati menyampaikan : “kehadiran kita semua pada pagi hari ini adalah salah satu bentuk komitmen, kepedulian, kesungguhan kita untuk memastikan keberlangsungan lingkungan kita. Sebetulnya di Asmat ini gagasan-gagasan besar itu lahir melalui gereja katolik dengan berbagai isu strategis yang menjadi perhatian kita bersama. Ini adalah menjadi tanggung jawab kita semua menjaga lingkungan untuk generasi yang akan datang. Jadi yang harus kita lakukan ini bukan untuk kita tapi merupakan sebuah landasan, pijakan, untuk generasi mendatang. Saya harap ini yang harus kita pertahankan. Kita kolaborasikan dengan program-program nyata yang memberi manfaat kepada masyarakat lokal disini. Kami berharap bahwa sinergitas gereja katolik melalui YASA dan teman-teman WWF atau pemerhati masalah lingkungan lainya terus dikedepankan.  Team WWF yang hadir dalam hari-hari Pelatihan ini adalah : 1) Ibu Wika Avelino Rumbiak (Direktur Konserfasi WWF Papua, 2) Deddy Richson ( Manager Program VCA Papua), 3) William Iwanggin (Manager Program VCA Papua Barat), Leo Yambise (Fasilitator FPIC), Sidik (Finance VCA Papua). Kegiatan pelatihan dibukan dan ditutup oleh Ketua YASA (P. Hendrikus Hada, Pr). (Hen – YASA)